Awan
sedikit mendung di langit. Menggantung memberi sedikit celah untuk sinar
matahari agar tetap bisa mencapai bumi.
Aku, sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Kembali berjalan di
pinggiran pantai ini. Berharap bertemu, atau setidaknya bisa melihat ubur-ubur.
Terdengar bodoh dan konyol memang, mana bisa bertemu dengan mudah dengan
ubur-ubur di pinggiran pantai?! Ubur –ubur itu adanya di tengah laut, bukan di
pinggir pantai seperti ini.
Flashback
“kau tau kenapa ubur-ubur
itu indah? Mereka itu makhluk yang indah, kau tetap bisa melihat lautan yang
ada di balik tubuh transparannya. Makhluk indah yang terlihat begitu rapuh tapi
tak ada yang mau berurusan dengannya. Kau tau kenapa? Karna dibalik tubuh
rapuhnya dia sangat berbahaya! Kau hanya bisa melihat dan mengaguminya, tapi
tidak bisa menyentuhnya. Dia hanya bisa disentuh oleh yang dianggapnya tidak
berbahaya, hanya bisa didekati oleh orang yang dia percaya. Kuharap aku bisa
menjadi seperti makhluk yang dipercayai ubur-ubur itu!”
Aku terdiam, masih menatap seekor
ubur-ubur kecil di dalam toples yang dipegang olehnya.
End Flashback
Suara
pecahan ombak yang menghantam karang kembali membangunkanku dari
ingatan-ingatan masa lalu. *eh? Ombak yang menghantam karang? Di sekitar sini
kan gak ada karang! Terus suara itu darimana? Kembali ku telusuri dengan
seksama setiap inci pantai di sekitarku berdiri sekarang. Ada onggokan aneh di
sana, berjarak sekitar 10m dari arah jam 3 ku.
Kudekati
onggokan itu, ini pasti bohong. Sepertinya ada yang salah dengan mataku. Ku
tampar pipiku sendiri beberapa kali, yang kulihat tidak menghilang. Malah
semakin jelas. Pasir yang tadi menutupinya perlahan menipis tergerus ombak yang
membenturnya.
‘kyaaaaaaa
ubur-ubur XD ini ubur-ubur terbesar yang kulihat. Ubur –uburnya udah mati belum
sih? Sebagai seorang dokter seharusnya bisa kupastikan hanya dengan melihatnya.
Tapi ini pertama kalinya aku memeriksa seekor ubur-ubur. Dan lagi ukuran
ubur-ubur ini hampir sebesar kambing!’
Tentakel-tentakel
beracunnya masih sediit bergerak :3 itu tandanya dia masih hidup. Gimana
caranya ngembaliin nih ubur-ubur ke laut? Mau dipegang langsung, gimana kalo
tiba-tiba kena tentakelnya dan kena racunnya. Entah jawaban atau bukan, kakiku
seperti menginjak sesuatu. Kulirik kaki ku dan kulihat sepotong kayu,
mungkinkah ini bisa membantu? ~alaaaah capek ngomong sok kalem -_- ~
Cih,
sial ini ubur-ubur beratnya berapa ton? Masa kayu segini gede patah hanya
gegara mau mindahin nih makhluk? Yare-yare, saking kesalnya dan gak tau mau
ngapain kaki ku tanpa perintah otak ~insting wanita mungkin~ malah nendang tuh
makhluk kenyal. Sekali tendang tanpa rasa berdosa ~plung~ ubur-ubur itupun
nyemplung dengan tidak elitnya kembali ke laut muehehehhe…heehehehe.. hehe ..
he.. ehh??? Cih ! gatal.. gatal gatal…..!!! kakiku yang menendang ubur-ubur
tadi gatal banget. Padahalkan gak kena tentakelnya.!!! Sibuk menggaruk kaki
yang super gatal, lagi-lagi aku menginjak sesuatu yang keras dari dalam pasir.
Penasaran
benda apa itu, kugali pasir tempat di mana tadi kakiku kurasa menginjak
sesuatu. Sial! Ini bukan benda .. ini manusia!! Lebih cepat lagi kugali pasir
itu.
~o~o~o~o~o~o~
“dirimu
sudah sadar? Ini minumlah dulu!” perintahku saat matanya mulai beradaptasi
dengan cahaya di ruang kamarku. Dia tidak bersuara hanya mengulurkan tangannya
mengambil gelas berisi cairan obat yang kupegang.
“er..
pueeeeehhhh!! APA INI? KAU MAU MERACUNIKU?”
Empat
siku bertahta indah di pelipis kananku mendengar kalimatnya. Sabar rhara ~oh
iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Rhara Ayumi, profesi dokter, tapi
belakangan ini memiliki kesibukan melakukan riset terlarang. Ok sudah cukup
perkenalan mengenai diriku~
Kembali
ke cerita, tadi sampai mana? Dia orang aneh? Bukan.. bukan yang itu.. yah
sekalipun dia memang aneh sih. Oh iya, empat siku bertahta indah di pelipis
kananku saat mendengar kalimatnya. Oh, sial banget nih orang, udah di tolongin
gak ada terima kasih -_-, rasanya pengen kujitak detik ini juga minimal menusuk
kepalanya dengan jarum akupuntur milikku.
“minum
sampai habis kalo mau sembuh. kalau gak mau, keluar dari rumahku sekarang
juga!. Aku gak mau ngejawab pertanyaan marine yang bejibun kalo kau sampai mati
di rumahku gegara sakit!”
Dengan
muka seperti orang sekarat, dia berusaha meminum segelas penuh cairan obat yang
kuberikan. Pffft bodoh, padahal gak usah diminum habis, cukup seteguk saja dia
juga bisa sembuh ~muehehehehe ketawa nistaku menggema indah di langit-langit
rongga mulutku.. dasar bodoh, satakut itukah dia mati?~
“kau
dokter yah?” orang aneh itu mulai membuka percakapan ! “hei, namamu
siapa?” hening.. aku bahkan tidak
menjawab pertanyaannya. Cih enak saja dia sok akrab bertanya kepadaku tanpa
memperkenalkan diri lebih dulu. Aku menoleh ke arahnya, mendelik tajam sebagai
tanda tidak menyukai ke-sok akrab-an nya itu
“ah
sial, salahku, seharusnya, aku yang memperenalkan diri lebih dulu sebelum
bertanya. Namaku Jetzz di kenal sebagai
street fighter, aku kapten bajak laut dari kelompok GHP J
“
Mataku
membelalak, tidak percaya dengan apa yang kudengar ini. Apa katanya? Bajak
laut? Dan lagi dia kapten? Tak perlu menunggu otakku loading lebih lama lagi,
ku seret dia turun dari sofa, dan mendorongnya keluar rumah. Kubanting pintu
dengan kasar tepat di depan hidungnya.
~o~o~o~o~o~o~
Kulangkahkan
kaki berjalan di sepanjang pertokoan ini. Bahan makananku sudah mulai menipis.
Seminggu setelah menolong orang yang ternyata bajak laut itu, kuhabiskan
mengurung diri di dalam rumah. Memakan semua yang bisa kumakan layaknya seorang
monster. Persediaan makanan sebulan lebih, habis hanya dalam jangka waktu
seminggu. Bayangin aja tuh betapa mengerikannya nafsu makanku saat sedang
marah.
Aku
membenci bajak laut! 2 tahun lalu orang yang penting dalam ‘buku’ di
kehidupanku, mati di tangan bajak laut. Memang, tidak semua bajak laut sejahat
mereka. Tapi berkat kejadian itulah, sekarang aku membenci bajak laut.
Kuputuskan sisa hidupku membuat racun (riset terlarang), yang tidak hanya
membunuh, tetapi orang yang meminumnya akan menjadi ubur-ubur. Agar tidak akan
nada orang yang berani mendekati mereka. Agar mereka merasakan kesepian yang
sama denganku. Karna tentu saja tidak akan ada orang yang dengan sukarela mau
menyentuh ubur-ubur.
Hal
kedua yang kubenci adalah berbelanja di kota ini. Karna saat berbelanja, aku
pasti berpapasan dengan para bajak laut yang mengisi perbekalan mereka untuk
menuju Fishman Island. Cih aku membenci kota ini, dan semua yang ada di
dalamnya. Kalo kalian bertanya kenapa aku tetap berada di sini? Padahal sangat
benci kota nya? Jawabannya mudah, dengan tinggal di sini aku dengan mudah
mendapat kelinci percobaan untuk racunku. Simple kan? Bahkan kelinci
percobaanku saja bajak laut.
~o~o~o~o~o~o~
~jauh dari tempatku berdiri~
“oi
spidut, bisa gak sih topengmu itu kau lepas? Malu nih. Orang-orang pada
liatin!” gerutu seorang pria sok kegantengan -_-
“suka-suka
aku tau!, ini ciri khasku!” jawab orang yang tadi disebut spidut
“hooh,
kalo begitu bergunalah sesekali,, keluarkan jaringmu ato apalah begitu, supaya
aku gak perlu capek2 bawa barang!”
“cih..
kau ini… kenapa kalo gak ada wanita malas banget sih? Ada wanita saja, suka sok
rajin, sok bisa ini itu. Dasar bisa-bisanya orang sepertimu jadi vice di
kelompok kita!” gerutu si spidut, tapi tetap menjalankan perintah orang sok
kecakepan yang tadi.
“karna
aku ganteng :3 ! “ cibir manusia sok ganteng itu
“oi
berisik! Di tengah jalan gini berantem!
Gak malu apa?” Tanya seorang tiba-tiba yang kalo dilihat dari kostumnya berasal
dari kepulauan kamabaka ~entahlah~ “kalo udah selese cepatlah kembali ke
kapal!”lanjut orang tersebut yang kedepannya dikenal sebagai waloute? Walut?
Belut?
“oi
oi, aku vice nya kenapa kau yang memerintah? Yang bisa memerintahku hanya
kapten!” pernyataan gak nyantai keluar dari mulut sang vice.
Pertengkaran
bodoh antara vice, spidut, dan belut pun terjadi
“ano,
bedewe, anibadi baswe di mana kapten?” pertanyaan spidut menghentikan
pertengkaran bodoh ketiganya
“biasa,
mengawasi calon dokter baru kapal kita!” jawab walut
“jadi
kapan kita bisa ke pulau berikutnya?” pertanyaan spidut membuat suasana hening
“kalo
dari sifat kapten, kita gak bakal pergi sampai sang calon dokter, melepas
embel-embel ‘calon’ dari julukannya dan masuk ke kelompok kita!”
“sepertinya
kita bakal lama di sini!” dari arah belakang mereka bertiga muncul dua lagi
makhluk aneh satu dengan wajah =,=” sebut saja dia error.. dan satu lagi dokter
juga mungkin? Entahlah.
“bubar-bubar.
Sana kembali ke kapal! Lagian kapten juga sih ngapain cari dokter lain? Bukannya
aku aja udah cukup?” Tanya orang tersebut yang kedepannya akan dikenal sebagai
olive oil :3
Tak
perlu mendengar lebih jauh penjelasan orang itu! Mereka berempat yang tadi ada
di sana meninggalkan orang itu seorang diri.
~o~o~o~o~o~o~
Aku
pulang dengan kewalahan membawa belanjaan,
bukan karena berat. Tetapi karna banyaknya tali yang harus kupegang.
Tidak hanya membeli kebutuhan untuk 1 bulan lebih. Aku juga membeli banyak
sekali bahan untuk risetku (pembuatan racun :3 ) sudah kuputuskan aku harus menyempurnakan
racun ini secepatnya.
Terlalu
semangat merencanakan niatku membuat racun itu. Aku malah tidak memperhatikan
langkahku, dan terjungkal sampai semua barang belanjaan yang kupegang terlepas.
Pasrah melihat semua barang belanjaanku terbang. Tiba-tiba ada 2 orang aneh
yang datang. 1 membantuku berdiri, dan 1 nya lagi bergerak lincah mengambil
barang yang tadi terlepas.
“kau
tidak apa-apa?” Tanya orang yang membantuku berdiri
“ya,
makasih! “ jawabku singkat
“ini
barang-barangmu. Ini cukup banyak untuk dibawa sendiri oleh seorang wanita
sepertimu. Bagaimana kalo kami mengantarmu sambil membawakan barang-barang
ini?” Tanya dan tawar orang yang tadi menangkap barang-barang itu.
Aku
tidak menjawab, tidak juga mengangguk menyetujuinya. kubiarkan saja dua orang
itu mengikuti langkahku. Hei, hitung-hitung penghematan tenaga :p fufufufufu ¼
jam kemudian, kami sampai di depan rumahku. Kuambil barang-barangku yang tadi
dibawa oleh 2 orang itu.
“oy,
kami belum tau namamu, namaku Iron, biasa dipanggil iron ganteng” kata orang yang tadi membantuku berdiri. Dia emang ganteng sih (gumamku dalam hati >.<).
“aku
walut” lanjut orang satu lagi yang tadi menangkap barang-barangku “kau? Namamu
siapa?
“rhara,
terima kasih, dan pulanglah!” jawabku ketus pada mereka
“oh,
ok baiklah sebelum itu, kami mau tanya tempat yang baik untuk menutupi kapal
dengan gelembung agar bisa ke Fishman Island di mana? Denger-denger untuk ke
Fishman Island kami harus pasang semacam gelembung kan? Kau orang sini kan? Kau
pasti tau tempat terbaik ada di mana?” Tanya orang bernama iron tadi
“cih,
kalian bajak laut?” mataku melotot saat bertanya kepada mereka
“iya,
kami bajak laut, tapi kami baik kok. Bukan bajak laut jahat!” beberapa anggukan
kuterima dari keduanya, sekali lagi kututup dengan kasar pintu rumahku seperti
seminggu lalu.
‘sial,
kenapa lagi-lagi ada bajak laut yang nyasar ke rumahku?’ gerutuku kesal dalam
hati. Buk buk buk. Suara gedoran pintu terdengar keras di belakangku
“oi
oi oi, salah kami apa? Kami bahkan tidak berbuat jahat?”pertanyaan dengan nada
teriak yang tiap kalimatnya seakan naik satu oktaf itu keluar dari mulut orang
bernama iron (yang kubilang ganteng tadi loh >.<), sambil menggedor-gedor pintu rumahku.
“KUBILANG
PERGI DARI SINI!!!” suara teriakanku dari dalam rumah gak kalah menggelegarnya
~diluar rumah
“hei,
apa yang kalian berdua lakukan di sini?” satu lagi suara yang tidak asing di
telingaku, itu suara orang yang seminggu lalu kutolong.
“kapten?
Apa yang kau lakukan di sini?”
“itu
pertanyaanku! Apa yang kalian lakukan kepada calon dokter kapalku?”
“apa?
Cewe yang gak tau terima kasih itu calon dokter kapal? Maksudmu calon dokter
kapal kita begitu? Pokoknya aku gak setuju!” suara yang kukenali milik iron
“vice,
apapun yang terjadi dia harus jadi dokter di kapal kita!” jawab sang kapten
sakratis
~dalam rumah~
Aku
yang mendengar pembicaraan mereka hampir tersedak (padahal lagi gak makan
apa-apa)
“CIH,
KAPAN AKU BILANG MAU GABUNG DENGAN KALIAN? AKU MEMBENCI BAJAK LAUT SEPERTI
KALIAN. SAMPAI MATIPUN AKU GAK AKAN PERNAH GABUNG DENGAN KALIAN!!!”
“tenanglah,
aku tau kau sedang menyempurnakan racun yang yang bisa membuat orang yang meminumnya
menjadi ubur-ubur. Kalo kau bersedia menjadi nakama ku aku, akan dengan senang
hati menjadi kelinci percobaanmu, sampai racun itu sempurna!” tantang kapten
GHP itu
“cih,
kau kira aku percaya?” jawabku menurunkan 1 oktaf tekanan suaraku
“aku
serius!”
Aku
berfikir sejenak, apa orang ini gila? Mau dengan suka rela menjadi kelinci
percobaanku? kubuka pintu rumahku, aku berdiri di ambang pintu dengan pose
kedua tangan terlipat di dada.
“ok.
Dengan 1 syarat!”
“apapun
itu!” jawab si kapten mantap!”
“tapi?
Tapi kapten?” jelas terdengar penolakan dari 2 orang anak buah kapten
tersebut.. entah penolakan karna aku ini orang yang tidak tau berterima kasih
seperti yang mereka katakan? Atau karna khawatir dengan yang dikatakan kapten
mereka ‘kelinci percobaan’
“di
kapal mu nanti aku harus memiliki 1 ruang khusus untuk membuat racun! Dan tidak
boleh ada yang masuk ke ruang itu! Kecuali atas seizinku, kalo kau bisa
memenuhinya..”
“BISA!!!
GAMPANG!!! “potong si kapten cepat
“tapi
kau juga harus merawat luka-luka kami saat terluka, kalo kau tidak ingin
bertempur gk masalah, cukup mengobati kami. Caramu waktu itu mengobatiku
menakjubkan, ramuan obatmu juga mujarab”
“Ok”
kulangkahkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan 3 orang itu di luar pintu,
aku mengambil pakaian-pakaian yang menurutku kubutuhkan. Hanya sedkit berkemas,
ku langkahkan kaki ku keluar dari rumah. Aku menoleh sekali lagi ke belakang, ke
arah rumahku yang memberi banyak kenangan ‘dengannya’.
Yah
itulah awalku bergabung dengan mereka, dengan GHP. Niat awalku hanya untuk
menyempurnakan racunku dengan mendapat kelinci percobaan. Awal bergabung dengan
niat jelek. Bukan salahku. Kaptennya sendiri yang menerima syaratku. Tapi,
waktu bahkan bisa merubah segalanya. Niat awalku yang begitu buruk perlahan
terkikis. Mereka yang selalu menerimaku hangat, meskipun tau niat buruk ku.
Kini merekalah yang menajdi bagian dari ‘buku kehidupan ku yang baru’.
Menggantikan ‘dia’ dari ‘buku kehidupanku yang lama’
~o~o~o~o~o~o~
END




Ironman
February 24, 2014 12:04 PM
Willy Prasetyo
February 27, 2014 1:22 PM