Laman

Rhara "Si Dokter Ubur-Ubur"

2 comments







Awan sedikit mendung di langit. Menggantung memberi sedikit celah untuk sinar matahari agar tetap bisa  mencapai bumi. Aku, sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Kembali berjalan di pinggiran pantai ini. Berharap bertemu, atau setidaknya bisa melihat ubur-ubur. Terdengar bodoh dan konyol memang, mana bisa bertemu dengan mudah dengan ubur-ubur di pinggiran pantai?! Ubur –ubur itu adanya di tengah laut, bukan di pinggir pantai seperti ini.
Flashback
“kau tau kenapa ubur-ubur itu indah? Mereka itu makhluk yang indah, kau tetap bisa melihat lautan yang ada di balik tubuh transparannya. Makhluk indah yang terlihat begitu rapuh tapi tak ada yang mau berurusan dengannya. Kau tau kenapa? Karna dibalik tubuh rapuhnya dia sangat berbahaya! Kau hanya bisa melihat dan mengaguminya, tapi tidak bisa menyentuhnya. Dia hanya bisa disentuh oleh yang dianggapnya tidak berbahaya, hanya bisa didekati oleh orang yang dia percaya. Kuharap aku bisa menjadi seperti makhluk yang dipercayai ubur-ubur itu!”
Aku terdiam, masih menatap seekor ubur-ubur kecil di dalam toples yang dipegang olehnya.
End Flashback


Suara pecahan ombak yang menghantam karang kembali membangunkanku dari ingatan-ingatan masa lalu. *eh? Ombak yang menghantam karang? Di sekitar sini kan gak ada karang! Terus suara itu darimana? Kembali ku telusuri dengan seksama setiap inci pantai di sekitarku berdiri sekarang. Ada onggokan aneh di sana, berjarak sekitar 10m dari arah jam 3 ku.
Kudekati onggokan itu, ini pasti bohong. Sepertinya ada yang salah dengan mataku. Ku tampar pipiku sendiri beberapa kali, yang kulihat tidak menghilang. Malah semakin jelas. Pasir yang tadi menutupinya perlahan menipis tergerus ombak yang membenturnya.
‘kyaaaaaaa ubur-ubur XD ini ubur-ubur terbesar yang kulihat. Ubur –uburnya udah mati belum sih? Sebagai seorang dokter seharusnya bisa kupastikan hanya dengan melihatnya. Tapi ini pertama kalinya aku memeriksa seekor ubur-ubur. Dan lagi ukuran ubur-ubur ini hampir sebesar kambing!’
Tentakel-tentakel beracunnya masih sediit bergerak :3 itu tandanya dia masih hidup. Gimana caranya ngembaliin nih ubur-ubur ke laut? Mau dipegang langsung, gimana kalo tiba-tiba kena tentakelnya dan kena racunnya. Entah jawaban atau bukan, kakiku seperti menginjak sesuatu. Kulirik kaki ku dan kulihat sepotong kayu, mungkinkah ini bisa membantu? ~alaaaah capek ngomong sok kalem -_- ~
Cih, sial ini ubur-ubur beratnya berapa ton? Masa kayu segini gede patah hanya gegara mau mindahin nih makhluk? Yare-yare, saking kesalnya dan gak tau mau ngapain kaki ku tanpa perintah otak ~insting wanita mungkin~ malah nendang tuh makhluk kenyal. Sekali tendang tanpa rasa berdosa ~plung~ ubur-ubur itupun nyemplung dengan tidak elitnya kembali ke laut muehehehhe…heehehehe.. hehe .. he.. ehh??? Cih ! gatal.. gatal gatal…..!!! kakiku yang menendang ubur-ubur tadi gatal banget. Padahalkan gak kena tentakelnya.!!! Sibuk menggaruk kaki yang super gatal, lagi-lagi aku menginjak sesuatu yang keras dari dalam pasir.
Penasaran benda apa itu, kugali pasir tempat di mana tadi kakiku kurasa menginjak sesuatu. Sial! Ini bukan benda .. ini manusia!! Lebih cepat lagi kugali pasir itu.
                                                ~o~o~o~o~o~o~
“dirimu sudah sadar? Ini minumlah dulu!” perintahku saat matanya mulai beradaptasi dengan cahaya di ruang kamarku. Dia tidak bersuara hanya mengulurkan tangannya mengambil gelas berisi cairan obat yang kupegang.
“er.. pueeeeehhhh!! APA INI? KAU MAU MERACUNIKU?”
Empat siku bertahta indah di pelipis kananku mendengar kalimatnya. Sabar rhara ~oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Rhara Ayumi, profesi dokter, tapi belakangan ini memiliki kesibukan melakukan riset terlarang. Ok sudah cukup perkenalan mengenai diriku~
Kembali ke cerita, tadi sampai mana? Dia orang aneh? Bukan.. bukan yang itu.. yah sekalipun dia memang aneh sih. Oh iya, empat siku bertahta indah di pelipis kananku saat mendengar kalimatnya. Oh, sial banget nih orang, udah di tolongin gak ada terima kasih -_-, rasanya pengen kujitak detik ini juga minimal menusuk kepalanya dengan jarum akupuntur milikku.
“minum sampai habis kalo mau sembuh. kalau gak mau, keluar dari rumahku sekarang juga!. Aku gak mau ngejawab pertanyaan marine yang bejibun kalo kau sampai mati di rumahku gegara sakit!”
Dengan muka seperti orang sekarat, dia berusaha meminum segelas penuh cairan obat yang kuberikan. Pffft bodoh, padahal gak usah diminum habis, cukup seteguk saja dia juga bisa sembuh ~muehehehehe ketawa nistaku menggema indah di langit-langit rongga mulutku.. dasar bodoh, satakut itukah dia mati?~
“kau dokter yah?” orang aneh itu mulai membuka percakapan ! “hei, namamu siapa?”  hening.. aku bahkan tidak menjawab pertanyaannya. Cih enak saja dia sok akrab bertanya kepadaku tanpa memperkenalkan diri lebih dulu. Aku menoleh ke arahnya, mendelik tajam sebagai tanda tidak menyukai ke-sok akrab-an nya itu
“ah sial, salahku, seharusnya, aku yang memperenalkan diri lebih dulu sebelum bertanya. Namaku Jetzz  di kenal sebagai street fighter, aku kapten bajak laut dari kelompok GHP J
Mataku membelalak, tidak percaya dengan apa yang kudengar ini. Apa katanya? Bajak laut? Dan lagi dia kapten? Tak perlu menunggu otakku loading lebih lama lagi, ku seret dia turun dari sofa, dan mendorongnya keluar rumah. Kubanting pintu dengan kasar tepat di depan hidungnya.
                                                ~o~o~o~o~o~o~
Kulangkahkan kaki berjalan di sepanjang pertokoan ini. Bahan makananku sudah mulai menipis. Seminggu setelah menolong orang yang ternyata bajak laut itu, kuhabiskan mengurung diri di dalam rumah. Memakan semua yang bisa kumakan layaknya seorang monster. Persediaan makanan sebulan lebih, habis hanya dalam jangka waktu seminggu. Bayangin aja tuh betapa mengerikannya nafsu makanku saat sedang marah.
Aku membenci bajak laut! 2 tahun lalu orang yang penting dalam ‘buku’ di kehidupanku, mati di tangan bajak laut. Memang, tidak semua bajak laut sejahat mereka. Tapi berkat kejadian itulah, sekarang aku membenci bajak laut. Kuputuskan sisa hidupku membuat racun (riset terlarang), yang tidak hanya membunuh, tetapi orang yang meminumnya akan menjadi ubur-ubur. Agar tidak akan nada orang yang berani mendekati mereka. Agar mereka merasakan kesepian yang sama denganku. Karna tentu saja tidak akan ada orang yang dengan sukarela mau menyentuh ubur-ubur.
Hal kedua yang kubenci adalah berbelanja di kota ini. Karna saat berbelanja, aku pasti berpapasan dengan para bajak laut yang mengisi perbekalan mereka untuk menuju Fishman Island. Cih aku membenci kota ini, dan semua yang ada di dalamnya. Kalo kalian bertanya kenapa aku tetap berada di sini? Padahal sangat benci kota nya? Jawabannya mudah, dengan tinggal di sini aku dengan mudah mendapat kelinci percobaan untuk racunku. Simple kan? Bahkan kelinci percobaanku saja  bajak laut.
                                                ~o~o~o~o~o~o~
~jauh dari tempatku berdiri~
“oi spidut, bisa gak sih topengmu itu kau lepas? Malu nih. Orang-orang pada liatin!” gerutu seorang pria sok kegantengan -_-
“suka-suka aku tau!, ini ciri khasku!” jawab orang yang tadi disebut spidut
“hooh, kalo begitu bergunalah sesekali,, keluarkan jaringmu ato apalah begitu, supaya aku gak perlu capek2 bawa barang!”
“cih.. kau ini… kenapa kalo gak ada wanita malas banget sih? Ada wanita saja, suka sok rajin, sok bisa ini itu. Dasar bisa-bisanya orang sepertimu jadi vice di kelompok kita!” gerutu si spidut, tapi tetap menjalankan perintah orang sok kecakepan yang tadi.
“karna aku ganteng :3 ! “ cibir manusia sok ganteng itu
“oi berisik!  Di tengah jalan gini berantem! Gak malu apa?” Tanya seorang tiba-tiba yang kalo dilihat dari kostumnya berasal dari kepulauan kamabaka ~entahlah~ “kalo udah selese cepatlah kembali ke kapal!”lanjut orang tersebut yang kedepannya dikenal sebagai waloute? Walut? Belut?
“oi oi, aku vice nya kenapa kau yang memerintah? Yang bisa memerintahku hanya kapten!” pernyataan gak nyantai keluar dari mulut sang vice.
Pertengkaran bodoh antara vice, spidut, dan belut pun terjadi
“ano, bedewe, anibadi baswe di mana kapten?” pertanyaan spidut menghentikan pertengkaran bodoh ketiganya
“biasa, mengawasi calon dokter baru kapal kita!” jawab walut
“jadi kapan kita bisa ke pulau berikutnya?” pertanyaan spidut membuat suasana hening
“kalo dari sifat kapten, kita gak bakal pergi sampai sang calon dokter, melepas embel-embel ‘calon’ dari julukannya dan masuk ke kelompok kita!”
“sepertinya kita bakal lama di sini!” dari arah belakang mereka bertiga muncul dua lagi makhluk aneh satu dengan wajah =,=” sebut saja dia error.. dan satu lagi dokter juga mungkin? Entahlah.
“bubar-bubar. Sana kembali ke kapal! Lagian kapten juga sih ngapain cari dokter lain? Bukannya aku aja udah cukup?” Tanya orang tersebut yang kedepannya akan dikenal sebagai olive oil :3
Tak perlu mendengar lebih jauh penjelasan orang itu! Mereka berempat yang tadi ada di sana meninggalkan orang itu seorang diri.

                                                ~o~o~o~o~o~o~
Aku pulang dengan kewalahan membawa belanjaan,  bukan karena berat. Tetapi karna banyaknya tali yang harus kupegang. Tidak hanya membeli kebutuhan untuk 1 bulan lebih. Aku juga membeli banyak sekali bahan untuk risetku (pembuatan racun :3 ) sudah kuputuskan aku harus menyempurnakan racun ini secepatnya.
Terlalu semangat merencanakan niatku membuat racun itu. Aku malah tidak memperhatikan langkahku, dan terjungkal sampai semua barang belanjaan yang kupegang terlepas. Pasrah melihat semua barang belanjaanku terbang. Tiba-tiba ada 2 orang aneh yang datang. 1 membantuku berdiri, dan 1 nya lagi bergerak lincah mengambil barang yang tadi terlepas.
“kau tidak apa-apa?” Tanya orang yang membantuku berdiri
“ya, makasih! “ jawabku singkat
“ini barang-barangmu. Ini cukup banyak untuk dibawa sendiri oleh seorang wanita sepertimu. Bagaimana kalo kami mengantarmu sambil membawakan barang-barang ini?” Tanya dan tawar orang yang tadi menangkap barang-barang itu.
Aku tidak menjawab, tidak juga mengangguk menyetujuinya. kubiarkan saja dua orang itu mengikuti langkahku. Hei, hitung-hitung penghematan tenaga :p fufufufufu ¼ jam kemudian, kami sampai di depan rumahku. Kuambil barang-barangku yang tadi dibawa oleh 2 orang itu.
“oy, kami belum tau namamu, namaku Iron, biasa dipanggil iron ganteng” kata orang yang tadi membantuku berdiri. Dia emang ganteng sih (gumamku dalam hati >.<).
“aku walut” lanjut orang satu lagi yang tadi menangkap barang-barangku “kau? Namamu siapa?
rhara, terima kasih, dan pulanglah!” jawabku ketus pada mereka
“oh, ok baiklah sebelum itu, kami mau tanya tempat yang baik untuk menutupi kapal dengan gelembung agar bisa ke Fishman Island di mana? Denger-denger untuk ke Fishman Island kami harus pasang semacam gelembung kan? Kau orang sini kan? Kau pasti tau tempat terbaik ada di mana?” Tanya orang bernama iron tadi
“cih, kalian bajak laut?” mataku melotot saat bertanya kepada mereka
“iya, kami bajak laut, tapi kami baik kok. Bukan bajak laut jahat!” beberapa anggukan kuterima dari keduanya, sekali lagi kututup dengan kasar pintu rumahku seperti seminggu lalu.
‘sial, kenapa lagi-lagi ada bajak laut yang nyasar ke rumahku?’ gerutuku kesal dalam hati. Buk buk buk. Suara gedoran pintu terdengar keras di belakangku
“oi oi oi, salah kami apa? Kami bahkan tidak berbuat jahat?”pertanyaan dengan nada teriak yang tiap kalimatnya seakan naik satu oktaf itu keluar dari mulut orang bernama iron (yang kubilang ganteng tadi loh >.<), sambil menggedor-gedor pintu rumahku.
“KUBILANG PERGI DARI SINI!!!” suara teriakanku dari dalam rumah gak kalah menggelegarnya

~diluar rumah
“hei, apa yang kalian berdua lakukan di sini?” satu lagi suara yang tidak asing di telingaku, itu suara orang yang seminggu lalu kutolong.
“kapten? Apa yang kau lakukan di sini?”
“itu pertanyaanku! Apa yang kalian lakukan kepada calon dokter kapalku?”
“apa? Cewe yang gak tau terima kasih itu calon dokter kapal? Maksudmu calon dokter kapal kita begitu? Pokoknya aku gak setuju!” suara yang kukenali milik iron
“vice, apapun yang terjadi dia harus jadi dokter di kapal kita!” jawab sang kapten sakratis
~dalam rumah~
Aku yang mendengar pembicaraan mereka hampir tersedak (padahal lagi gak makan apa-apa)
“CIH, KAPAN AKU BILANG MAU GABUNG DENGAN KALIAN? AKU MEMBENCI BAJAK LAUT SEPERTI KALIAN. SAMPAI MATIPUN AKU GAK AKAN PERNAH GABUNG DENGAN KALIAN!!!”
“tenanglah, aku tau kau sedang menyempurnakan racun yang yang bisa membuat orang yang meminumnya menjadi ubur-ubur. Kalo kau bersedia menjadi nakama ku aku, akan dengan senang hati menjadi kelinci percobaanmu, sampai racun itu sempurna!” tantang kapten GHP itu
“cih, kau kira aku percaya?” jawabku menurunkan 1 oktaf tekanan suaraku
“aku serius!”
Aku berfikir sejenak, apa orang ini gila? Mau dengan suka rela menjadi kelinci percobaanku? kubuka pintu rumahku, aku berdiri di ambang pintu dengan pose kedua tangan terlipat di dada.
“ok. Dengan 1 syarat!”
“apapun itu!” jawab si kapten mantap!”
“tapi? Tapi kapten?” jelas terdengar penolakan dari 2 orang anak buah kapten tersebut.. entah penolakan karna aku ini orang yang tidak tau berterima kasih seperti yang mereka katakan? Atau karna khawatir dengan yang dikatakan kapten mereka ‘kelinci percobaan’
“di kapal mu nanti aku harus memiliki 1 ruang khusus untuk membuat racun! Dan tidak boleh ada yang masuk ke ruang itu! Kecuali atas seizinku, kalo kau bisa memenuhinya..”
“BISA!!! GAMPANG!!! “potong si kapten cepat
“tapi kau juga harus merawat luka-luka kami saat terluka, kalo kau tidak ingin bertempur gk masalah, cukup mengobati kami. Caramu waktu itu mengobatiku menakjubkan, ramuan obatmu juga mujarab”
“Ok” kulangkahkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan 3 orang itu di luar pintu, aku mengambil pakaian-pakaian yang menurutku kubutuhkan. Hanya sedkit berkemas, ku langkahkan kaki ku keluar dari rumah. Aku menoleh sekali lagi ke belakang, ke arah rumahku yang memberi banyak kenangan ‘dengannya’.
Yah itulah awalku bergabung dengan mereka, dengan GHP. Niat awalku hanya untuk menyempurnakan racunku dengan mendapat kelinci percobaan. Awal bergabung dengan niat jelek. Bukan salahku. Kaptennya sendiri yang menerima syaratku. Tapi, waktu bahkan bisa merubah segalanya. Niat awalku yang begitu buruk perlahan terkikis. Mereka yang selalu menerimaku hangat, meskipun tau niat buruk ku. Kini merekalah yang menajdi bagian dari ‘buku kehidupan ku yang baru’. Menggantikan ‘dia’ dari ‘buku kehidupanku yang lama’
                                                ~o~o~o~o~o~o~
                                                            END


aku memang ganteng.. yeeey \ (^_^) /
hey,, kenapa tau tau ane terkubur bareng ubur2.. -_-
Jangan lupa komen-komennya setelah membaca hal aneh yang tertulis diatas ya sobat! ^_^

Jangan lupa komen-komennya setelah membaca hal aneh yang tertulis diatas ya sobat! ^_^

Gold Haired Pirates OPFCI